Selasa, 14 Februari 2012
Selasa, 07 Februari 2012
Asuhan Keperawatan Hipertensi
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang
Hipertensi merupakan
penyakit yang makin banyak dijumpai di Indonesia, terutama di kota besar. Di
negara industri, hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Di
Indonesia hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang sangat perlu
diperhatikan oleh dokter, perawat, serta tim kesehatan lainnya yang bekerja
pada pelayanan kesehatan primer, karena angka prevalensinya yang tinggi akibat
jangka panjang yang ditimbulkannya. (Prof. Tjokronegoro, Arjatma, 2001)
Berdasarkan
penyebabnya hipertensi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu hipertensi
primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer meliputi lebih kurang 90%
dari seluruh pasien hipertensi dan 10% lainnya disebabkan oleh hipertensi
sekunder. Hanya 50% dari golongan hipertensi sekunder dapat diketahui
penyebabnya dan dari golongan ini hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki
kelainannya. Oleh karena itu upaya penanggulangan hipertensi terhadap
hipertensi primer baik mengenai patogenesis maupun tentang pengobatannya. Hipertensi
tidak boleh dianggap penyakit yang ringan karena jika terlambat memberikan
pertolongan penyakit ini akan merenggut nyawa penderita
2.1 Tujuan
a. Tujuan umun
Setelah dibuatnya makalah hipertensi , Mahasiswa dapat
mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi.
b. Tujuan
khusus
1. Dapat
mengetahui dan memahami definisi
dari hipertensi , etiologi, klasifikasi, patofisiologi, tanda dan gejala , manifestasi
klinis , komplikasi hipertensi.
2. Dapat
melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi
Bab II
Tinjauan
Teoritis
A. Pengertian
Hipertensi
dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten
dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90
mmHg.( Bunner &sudart, 2002:897).
Menurut WHO, penyakit hipertensi
merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg
dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg. (Kodim Nasrin, 2003).
Hipertensi
adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi
adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan
darah (Mansjoer,2000 : 144)
Hipertensi
adalah keadaan menetap tekanan sistolik melebih dari 140 mmHg atau tekanan
diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostik ini dapat dipastikan dengan
mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang terpisah (FKUI, 2001 : 453).
Jadi , Hipertensi adalah peningkatan tekana darah di
atas normal yaitu bila tekanan sistolik (atas) 140 mmHg atau lebih dan tekanan
diastolic (bawah) 90 mmHg atau lebih.
B. Etiologi
Pada
umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi
sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi:
o Genetik
: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na.
o Obesitas
: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan darah
meningkat.
o Stress
Lingkungan.
o Hilangnya
Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran pembuluh
darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan
yaitu:
a.
Hipertensi primer/esensial
Belum
diketehui penyebabnya.beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan berkembangnya
hipertensi esensial berikut ini
1. Genetik: Respon nerologi terhadap
stress atau kelainan eksresi atau transport Na
2. Obesitas: terkait dengan level
insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat
3. Stress karena Lingkungan.
4. jenis kelamin: laki-laki usia
30-50,wanita pasca monopouse
5. diet:tinggi garam atau lemak
b. Hipertensi sukunder
Etiologi sekunder pada umunya di
ketahui. Berikut ini beberapa kondisi yang menjadi penyebab terjadinya
hipertensi ;
1.
Ginjal
· Glomerulonefritis
· Pielonefritis
· Nekrosis tubular akut
· Tumor
2.
Vascular
· Aterosklerosis
· Hiperplasia
· Trombosis
·
Aneurisma
· Emboli kolestrol
· Vaskulitis
3.
Kelainan
endokrin
· DM
· Hipertiroidisme
· Hipotiroidisme
4.
Saraf
· Stroke
· Ensepalitis
· SGB
5.
Obat
– obatan
· Kontrasepsi oral
· Kortikosteroid
C. Faktor
Predisposisi
Faktor
predioposisi penderita hipertensi meliputi orang yang mengalami stress
psikososial.
a. kegemukan
b. kurang
olahraga
c. perokok
d. peminum
alcohol
D.
Komplikasi
( Brunner & Suddarth,
2002 ).
a. Stroke
b. Infark
miokard
c. Gagal
ginjal
d. Gangguan
penglihatan
E. Patofisiologi
Pengetahuan
patofisiologis hipertensi essensial sampai sekarang terus berkembang, karena
belum terdapat jawaban yang memuaskan yang menerangkan terjadinya peningkatan
tekanan darah. Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan
perifer. Beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan TD pada hipertensi
essensial yaitu faktor genetik, aktivitas tonus simpatis, faktor hemodinamik,
metabolisme Na dalam ginjal, gangguan mekanisme pompa sodium Na (sodium pump)
dan faktor renin, angiotensis, aldosteron. Patofisiologi di sini lebih mengacu
pada penyebabnya.
a.
Faktor genetik, dibuktikan dengan banyak dijumpai pada
penderita kembar monozigot apabila salah satunya menderita hipertensi.
b.
Peningkatan aktivitas tonus simpatis, pada tahap awal
hipertensi curah jantung meningkat, tahanan perifer normal, pada tahap
selanjutnya curah jantung normal, tahanan perifer meningkat dan terjadilah
refleks autoregulasi yaitu mekanisme tubuh untuk mempertahankan keadaan
hemodinamik yang normal.
c.
Pergeseran cairan kapiler antara sirkulasi dan
intestinal dikontrol oleh hormon seperti angiotensin (vasopresin) termasuk
sistem kontrol yang bereaksi cepat, sedangkan sistem kontrol yang
mempertahankan TD jangka panjang diatur oleh cairan tubuh yang melibatkan
ginjal.
d.
Pengaruh asupan garam terjadi melalui peningkatan
volume plasma, curah jantung dan TD, keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan
ekskresi kelebihan garam sehingga kembali ke keadaan hemodinamik yang normal.
e.
Sistem renin, angiotensin dan aldosteron. Renin
distimulasi oleh saraf simpatis yang berperan pada proses konversi angiotensin
I menjadi angiotensin II yang berefek vasokontriksi. Dengan angiotensin II
sekresi aldosteron akan meningkat dan menyebabkan retensi Na dan air.
F.
Pathway
( Lany
Gunawan, 2001 )
G. Manifestasi
Klinik
Manifestasi
klinis pada klien dengan hipertensi adalah;
o
Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
o
Sakit kepala
o
Pusing / migraine
o
Rasa berat ditengkuk
o
Sukar tidur
o
Mata berkunang kunang
o
Lemah dan lelah
o
Muka pucat
o
Suhu tubuh rendah
H.
Pemeriksaan
penunjang
(FKUI, 2001 : 453)
- Pemeriksaan Laboratorium
Ø Hb/Ht
: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan
dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
Ø BUN
/ kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
Ø Glucosa
: Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh
pengeluaran kadar ketokolamin.
Ø Urinalisa
: darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM.
2. CT
Scan : Mengkaji adanya tumor
cerebral, encelopati
3. EKG : Dapat menunjukan pola regangan,
dimana luas, peninggian gelombang
P adalah salah satu tanda dini penyakit
jantung hipertensi.
4. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu
ginjal,perbaikan ginjal.
5. Photo
dada : Menunjukan
destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran jantung
I.
Penatalaksanaan Medis Umum
Didasarkan
pada program perawatan bertahap (Wijaya Kusuma, 2004: 11)
i. Langkah
I. Tindakan-tindakan konservatif :
a. Modifikasi diet
-
Pembatasan natrium
-
Penurunan masukan kolesterol dan lemak
jenuh
-
Penurunan masukan kalori untuk
mengontrol berat badan
-
Menurunkan masukan minuman beralkohol
b.
Menghentikan merokok
c.
Penatalaksanaan stress
d.
Program latihan regular untuk menurunkan
berat badan
ii.
Langkah II. Farmakoterapi bila
tindakan-tindakan konservatif gagal untuk mengontrol TD sercara adekuat. Salah
satu dari berikut ini dapat digunakan.
-
diuretik
-
penyekat beta adrenergik
-
penyekat saluran kalsium
-
penghambat enzim pengubah angiotensin
(ACE)
iii. Langkah
III Dosis obat dapat dikurangi, obat kedua dari kelas yang berbeda dapat
ditambahkan atau penggantian obat lainnya dari kelas yang berbeda.
iv. Langkah
IV. Obat ketiga dapat ditambah atau obat kedua digantikan yang lain dari kelas
yang berbeda.
v.
Langkah V. Evaluasi lanjut atau rujukan
pada spesialis atau keempat dapat ditambahkan masing-masing dari kelas yang
berbeda,
Bab III
Asuhan
Keperawatan
1.
Pengkajian
(Doengoes,
2000)
Dasar
pengkajian pasien meliputi :
a. Aktivitas
atau istirahat
Kelemahan, letih, napas
pendek, frekuensi jantung tinggi, takipnea, perubahan irama jantung.
b. Sirkulasi
Riwayat hipertensi,
ateroslerosis, penyakit serebvaskuler, kenaikan tekanan darah, takikardi,
distritmia, kulit pucat, cianosis, diaforesis.
c. Integritas
ego
Perubahan kepribadian,
ansietas, depresi atau marah kronik, gelisah, tangisan yang meledak, gerak tangan
empati, otot muka tegang, pernafasan maligna, peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
Gangguan ginjal saat ini
atau yang lalu seperti infeksi, obstruksi atau riwayat penyakit ginjal.
e. Makanan
atau cairan
Makanan yang disukai (tinggi
garam, tinggi lemak, tinggi kolesterolk, mual dan muntah, perubahan berat
badan, obsesitas, adanya edema.
f. Neurosensori
Pusing, sakit kepala,
gangguan penglihatan, perubahan keterjagaan, orientasi pola atau isi bicara,
proses pikir atau memori (ingatan), respon motorik (penurunan kekuatan gangguan
tangan), perubahan retinal optik.
g. Nyeri
atau ketidaknyamanan
Angina, nyeri hilang atau
timbul pada tungkai atau klaudikasi, sakit kepala, nyeri abdomen.
h. Pernafasan
Dispnea, takipnea, ortopnea,
dispnea noktural paroksisimal, riwayat merokok, batuk dengan atamu tanpa
sputum, distress respirasi atau penggunaan otot aksesori pernafasan, bunyi
nafas tambahan, cianosis.
2.
Diagnosa Keperawatan
(
Doengoes, 2000 )
a. nyeri
atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral.
b. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
c. Gangguan
perubahan pola nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan
berlebihan kebutuhan metabolik.
d. Resiko
tinggi terhadap penurunan jantung berhubungan dengan peningkatan afterload
vasokontriksi.
3.
Intervensi
(Doengoes,
2000)
a. Dx
1. nyeri atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular
serebral.
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan
3x24 jam tekanan vaskuler selebral tidak meningkat
Kriteria
hasil : - pasien akan melaporkan
nyeri hilang atau terkontrol
- pasien akan mengungkapkan metode yang
memberikan pengurangan
- pasien akan mengikuti regimen farmakologi
yang diresepkan
Intervensi :
1.
Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
Rasional : meminimalkan stimulasi atau meningkatkan
relaksasi.
2.
Memberi tindakan non farmakologis untuk menghilangkan
sakit kepala (kompres dingin, tehnik relaksasi)
Rasional : tindakan yang menurunkan tekanan vaskular
serebral dan yang memperlambat respon simpatis efektif menghilangkan sakit
kepala dan komplikasinya.
3.
Meminimalkan aktivitas vasokontriksi yang meningkatkan
sakit kepala (mengejan saat BAB, batuk dan membungkuk)
Rasional : aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi
menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskular serebral.
4.
Kolaborasi dokter dengan pemberian analgesik
Rasional : menurunkan atau mengontrol nyeri dan
menurunkan rangsang sistem saraf simpatis.
b.
Dx 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan fisik
Tujuan
: Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam aktivitas klien terpenuhi
Kriteria hasil : - pasien akan berpartisipasi dalam aktivitas
yang diinginkan
- pasien akan melaporkan peningkatan toleransi
aktivitas yang dapat diukur
- pasien akan menuju penurunan tanda-tanda
intoleransi fisiologi
Intervensi
:
1.
Kaji respon pasien terhadap aktivitas
Rasional : menyebutkan parameter membantu mengkaji
respon fisiologi terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan indikator
dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2.
Instruksikan pasien tentang tehnik penghematan energi
(duduk saat gosok gigi, atau menyisir rambut) dan melakukan aktivitas perlahan.
Rasional : membantu antara suplai dan kebutuhan O2
3.
Dorong untuk beraktivitas atau melakukan perawatan diri
bertahap.
Rasional : kemajuan aktivitas mencegah peningkatan
kerja jantung tiba-tiba.
c.
Dx 3. Gangguan pola nutrisi sehubungan dengan lebih
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan kebutuhan metabolik.
Tujuan : Pemenuhan pola nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil : - pasien akan mengidentifikasi hubungan
hipertensi dan kegemukan
- pasien akan menunjukkan perubahan pola makan
- pasien akan melakukan olahraga yang tepat
rasional
Intervensi
:
1.
Kaji pemahaman pasien tentang hubungan antara
hipertensi dengan kegemukan
Rasional : kegemukan adalah resiko tekanan darah tinggi
karena disproporsi antara kapasitas norta dan peningkatan curah jantung
berkaitan erat dengan peningkatan massa tubuh.
2.
Bicara tentang pentingnya menurunkan masukan kalori dan
batasi lemak, garam, gula sesuai indikasi.
Rasional : kesalahan kebiasaan makan menunjang
terjadinya ateroskerosis dan kegemukan merupakan predisposisi untuk hipertensi
dan komplikasinya.
3.
Tetapkan keinginan pasien untuk menurunkan berat badan.
Rasional : motivasi untuk penurunan berat badan adalah
intern individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan agar program
berhasil.
4.
Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet
Rasional : mengidentifikasi kekuatan atau kelemahan
dalam program diit terakhir, membantu menentukan kebutuhan individu untuk
penyesuaian atau penyuluhan.
5.
Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi
Rasional : memberikan konseling dan bantuan dengan
memenuhi kebutuhan diet individual.
d.
Dx 4. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung
sehubungan dengan peningkatan afterload vasokontriksi.
Tujuan : Klien bebas dari penurunan curah jantung.
Kriteria hasil : - pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang
menurunkan beban yang dapat diterima.
- pasien memperlihatkan irama dan frekuensi
jantung stabil dalam rentang normal.
Intervensi :
1.
Pantau tekanan darah untuk evaluasi awal
Rasional : perbandingan tekanan memberikan gambaran
tentang keterlibatan atau bidang masalah vaskular.
2.
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
Rasional : denyut karoitis, jugularis, radialis dan
femoralis dap terpalpasi sedangkan denyut tungkai mungkin menurun.
3.
Akultasi tonus jantung dan bunyi nafas
Rasional : S4 terdengar pada pasien hipertensi berat
karena ada hipertropi atrium (peningkatan volume atau tekanan atrium)
perkembangan S3 menunjukkan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi.
4.
Catat edema umum atau tertentu
Rasional : mengindikasikan gagal jantung, kerusakan
ginjal atau vaskular.
5.
Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurangi
aktivitas atau keributan dan batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.
Rasional : membantu menurunkan rangsang simpatis dan
meningkatkan relaksasi.
Bab IV
Penutup
A. Kesimpulan
Hipertensi dapat
didefinisikan dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya
diatas 90 mmHg.( Bunner &sudart, 2002:897) menurut penyebabnya hipertensi
terbagi 2 yaitu hipertensi primer /esensial dan hipertensi sekunder.hal ini lah
yang mengakibatkan penurunnan curah jantung sehingga jantung di paksa utuk
bekerja dengan kuat. Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak
menimbulkan gejala.
Secara
tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan
dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud
adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan
kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada
seseorang dengan tekanan darah yang normal.
B. Saran
Penulis menyadari dalam penulisan dan pembahasan
makalah ini banyak ditemui kesalahan dan kekurangan baik dari penulisan dan
pembahasan dikarenakan penulis masih dalam proses pembelajaran,penulis menerima
dengan lapang dada saran dan tanggapan
dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini,dan penulis juga berharap makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis nantinya
Daftar Pustaka
Doengoes,
Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
2000
Brunner
& Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta,
EGC, 2002
Gunawan,
Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001
Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
2000
http://cozbenk-askephipertensi.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)