Selasa, 07 Februari 2012

Asuhan Keperawatan Hipertensi


Bab I
Pendahuluan

1.1  Latar Belakang
Hipertensi merupakan penyakit yang makin banyak dijumpai di Indonesia, terutama di kota besar. Di negara industri, hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Di Indonesia hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang sangat perlu diperhatikan oleh dokter, perawat, serta tim kesehatan lainnya yang bekerja pada pelayanan kesehatan primer, karena angka prevalensinya yang tinggi akibat jangka panjang yang ditimbulkannya. (Prof. Tjokronegoro, Arjatma, 2001)
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer meliputi lebih kurang 90% dari seluruh pasien hipertensi dan 10% lainnya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Hanya 50% dari golongan hipertensi sekunder dapat diketahui penyebabnya dan dari golongan ini hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya. Oleh karena itu upaya penanggulangan hipertensi terhadap hipertensi primer baik mengenai patogenesis maupun tentang pengobatannya. Hipertensi tidak boleh dianggap penyakit yang ringan karena jika terlambat memberikan pertolongan penyakit ini akan merenggut nyawa penderita

2.1 Tujuan
a.                Tujuan umun
     Setelah dibuatnya makalah hipertensi , Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi.
b.    Tujuan khusus
1.      Dapat mengetahui dan memahami definisi dari hipertensi , etiologi, klasifikasi, patofisiologi, tanda dan gejala , manifestasi klinis , komplikasi hipertensi.
2.      Dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi
                                        

Bab II
Tinjauan Teoritis

A.      Pengertian

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.( Bunner &sudart, 2002:897).
Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg. (Kodim Nasrin, 2003).
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah (Mansjoer,2000 : 144)
Hipertensi adalah keadaan menetap tekanan sistolik melebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostik ini dapat dipastikan dengan mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang terpisah (FKUI, 2001 : 453).
Jadi , Hipertensi adalah peningkatan tekana darah di atas normal yaitu bila tekanan sistolik (atas) 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolic (bawah) 90 mmHg atau lebih.

B.       Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
o   Genetik : Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na.
o   Obesitas : terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan darah meningkat.
o   Stress Lingkungan.
o   Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran pembuluh darah.

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
a.       Hipertensi primer/esensial
  Belum diketehui penyebabnya.beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi esensial berikut ini
1.    Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport  Na
2.    Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat
3.     Stress karena Lingkungan.
4.    jenis kelamin: laki-laki usia 30-50,wanita pasca monopouse
5.    diet:tinggi garam atau lemak

b.      Hipertensi sukunder
Etiologi sekunder pada umunya di ketahui. Berikut ini beberapa kondisi yang menjadi penyebab terjadinya hipertensi ;
1.        Ginjal
·      Glomerulonefritis
·      Pielonefritis
·      Nekrosis tubular akut
·      Tumor
2.        Vascular
·      Aterosklerosis
·      Hiperplasia
·      Trombosis
·       Aneurisma
·      Emboli kolestrol
·      Vaskulitis
3.        Kelainan endokrin
·      DM
·      Hipertiroidisme
·      Hipotiroidisme
4.        Saraf
·      Stroke
·      Ensepalitis
·      SGB
5.        Obat – obatan
·      Kontrasepsi oral
·      Kortikosteroid


C.      Faktor Predisposisi
Faktor predioposisi penderita hipertensi meliputi orang yang mengalami stress psikososial.
a.       kegemukan
b.      kurang olahraga
c.       perokok
d.      peminum alcohol

D.      Komplikasi
       ( Brunner & Suddarth, 2002 ).
a. Stroke
b. Infark miokard
c. Gagal ginjal
d. Gangguan penglihatan




E.       Patofisiologi
Pengetahuan patofisiologis hipertensi essensial sampai sekarang terus berkembang, karena belum terdapat jawaban yang memuaskan yang menerangkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer. Beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan TD pada hipertensi essensial yaitu faktor genetik, aktivitas tonus simpatis, faktor hemodinamik, metabolisme Na dalam ginjal, gangguan mekanisme pompa sodium Na (sodium pump) dan faktor renin, angiotensis, aldosteron. Patofisiologi di sini lebih mengacu pada penyebabnya.
a.         Faktor genetik, dibuktikan dengan banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot apabila salah satunya menderita hipertensi.
b.         Peningkatan aktivitas tonus simpatis, pada tahap awal hipertensi curah jantung meningkat, tahanan perifer normal, pada tahap selanjutnya curah jantung normal, tahanan perifer meningkat dan terjadilah refleks autoregulasi yaitu mekanisme tubuh untuk mempertahankan keadaan hemodinamik yang normal.
c.         Pergeseran cairan kapiler antara sirkulasi dan intestinal dikontrol oleh hormon seperti angiotensin (vasopresin) termasuk sistem kontrol yang bereaksi cepat, sedangkan sistem kontrol yang mempertahankan TD jangka panjang diatur oleh cairan tubuh yang melibatkan ginjal.
d.        Pengaruh asupan garam terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan TD, keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam sehingga kembali ke keadaan hemodinamik yang normal.
e.         Sistem renin, angiotensin dan aldosteron. Renin distimulasi oleh saraf simpatis yang berperan pada proses konversi angiotensin I menjadi angiotensin II yang berefek vasokontriksi. Dengan angiotensin II sekresi aldosteron akan meningkat dan menyebabkan retensi Na dan air.






F.       Pathway
( Lany Gunawan, 2001 )


G.      Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah;
o  Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
o  Sakit kepala
o  Pusing / migraine
o  Rasa berat ditengkuk
o  Sukar tidur
o  Mata berkunang kunang
o  Lemah dan lelah
o  Muka pucat
o  Suhu tubuh rendah

H.      Pemeriksaan penunjang
(FKUI, 2001 : 453)
  1. Pemeriksaan Laboratorium
Ø  Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
Ø  BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
Ø  Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
Ø  Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM.
2.      CT Scan          : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
3.      EKG               : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian     gelombang P   adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
4.      IUP                 : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan ginjal.
5.      Photo dada     : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran jantung



I.         Penatalaksanaan Medis Umum
          Didasarkan pada program perawatan bertahap (Wijaya Kusuma, 2004: 11)
                    i.     Langkah I. Tindakan-tindakan konservatif :
a.  Modifikasi diet
-          Pembatasan natrium
-          Penurunan masukan kolesterol dan lemak jenuh
-          Penurunan masukan kalori untuk mengontrol berat badan
-          Menurunkan masukan minuman beralkohol
b.      Menghentikan merokok
c.       Penatalaksanaan stress
d.      Program latihan regular untuk menurunkan berat badan
ii.         Langkah II. Farmakoterapi bila tindakan-tindakan konservatif gagal untuk mengontrol TD sercara adekuat. Salah satu dari berikut ini dapat digunakan.
-          diuretik
-          penyekat beta adrenergik
-          penyekat saluran kalsium
-          penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE)
iii.       Langkah III Dosis obat dapat dikurangi, obat kedua dari kelas yang berbeda dapat ditambahkan atau penggantian obat lainnya dari kelas yang berbeda.
iv.       Langkah IV. Obat ketiga dapat ditambah atau obat kedua digantikan yang lain dari kelas yang berbeda.
v.         Langkah V. Evaluasi lanjut atau rujukan pada spesialis atau keempat dapat ditambahkan masing-masing dari kelas yang berbeda,




Bab III
Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian
(Doengoes, 2000)
Dasar pengkajian pasien meliputi :
a.       Aktivitas atau istirahat
Kelemahan, letih, napas pendek, frekuensi jantung tinggi, takipnea, perubahan irama jantung.
b.      Sirkulasi
Riwayat hipertensi, ateroslerosis, penyakit serebvaskuler, kenaikan tekanan darah, takikardi, distritmia, kulit pucat, cianosis, diaforesis.
c.       Integritas ego
Perubahan kepribadian, ansietas, depresi atau marah kronik, gelisah, tangisan yang meledak, gerak tangan empati, otot muka tegang, pernafasan maligna, peningkatan pola bicara.
d.      Eliminasi
Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi, obstruksi atau riwayat penyakit ginjal.
e.       Makanan atau cairan
Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterolk, mual dan muntah, perubahan berat badan, obsesitas, adanya edema.
f.       Neurosensori
Pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, perubahan keterjagaan, orientasi pola atau isi bicara, proses pikir atau memori (ingatan), respon motorik (penurunan kekuatan gangguan tangan), perubahan retinal optik.
g.      Nyeri atau ketidaknyamanan
Angina, nyeri hilang atau timbul pada tungkai atau klaudikasi, sakit kepala, nyeri abdomen.
h.      Pernafasan
Dispnea, takipnea, ortopnea, dispnea noktural paroksisimal, riwayat merokok, batuk dengan atamu tanpa sputum, distress respirasi atau penggunaan otot aksesori pernafasan, bunyi nafas tambahan, cianosis.

2.      Diagnosa Keperawatan
( Doengoes, 2000 )
a.       nyeri atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral.
b.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
c.       Gangguan perubahan pola nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan kebutuhan metabolik.
d.      Resiko tinggi terhadap penurunan jantung berhubungan dengan peningkatan afterload vasokontriksi.

3.      Intervensi
(Doengoes, 2000)
a.       Dx 1. nyeri atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral.
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan 3x24 jam tekanan vaskuler selebral tidak meningkat
Kriteria hasil     :    -    pasien akan melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
                               -    pasien akan mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan
                               -    pasien akan mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan

Intervensi :
1.      Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
Rasional      :    meminimalkan stimulasi atau meningkatkan relaksasi.
2.      Memberi tindakan non farmakologis untuk menghilangkan sakit kepala (kompres dingin, tehnik relaksasi)
Rasional      :    tindakan yang menurunkan tekanan vaskular serebral dan yang memperlambat respon simpatis efektif menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
3.      Meminimalkan aktivitas vasokontriksi yang meningkatkan sakit kepala (mengejan saat BAB, batuk dan membungkuk)
Rasional      :    aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskular serebral.
4.      Kolaborasi dokter dengan pemberian analgesik
Rasional      :    menurunkan atau mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis.

b.      Dx 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam aktivitas klien terpenuhi
Kriteria hasil     :    -    pasien akan berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
                               -    pasien akan melaporkan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur
                               -    pasien akan menuju penurunan tanda-tanda intoleransi fisiologi

Intervensi :
1.      Kaji respon pasien terhadap aktivitas
Rasional      :    menyebutkan parameter membantu mengkaji respon fisiologi terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2.      Instruksikan pasien tentang tehnik penghematan energi (duduk saat gosok gigi, atau menyisir rambut) dan melakukan aktivitas perlahan.
Rasional      :    membantu antara suplai dan kebutuhan O2
3.      Dorong untuk beraktivitas atau melakukan perawatan diri bertahap.
Rasional      :    kemajuan aktivitas mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba.
c.       Dx 3. Gangguan pola nutrisi sehubungan dengan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan kebutuhan metabolik.
Tujuan : Pemenuhan pola nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil     :    -    pasien akan mengidentifikasi hubungan hipertensi dan kegemukan
                               -    pasien akan menunjukkan perubahan pola makan
                               -    pasien akan melakukan olahraga yang tepat rasional

Intervensi :
1.      Kaji pemahaman pasien tentang hubungan antara hipertensi dengan kegemukan
Rasional      :    kegemukan adalah resiko tekanan darah tinggi karena disproporsi antara kapasitas norta dan peningkatan curah jantung berkaitan erat dengan peningkatan massa tubuh.
2.      Bicara tentang pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi lemak, garam, gula sesuai indikasi.
Rasional      :    kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya ateroskerosis dan kegemukan merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya.
3.      Tetapkan keinginan pasien untuk menurunkan berat badan.
Rasional      :    motivasi untuk penurunan berat badan adalah intern individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan agar program berhasil.
4.      Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet
Rasional      :    mengidentifikasi kekuatan atau kelemahan dalam program diit terakhir, membantu menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian atau penyuluhan.
5.      Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi
Rasional      :    memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual.
d.      Dx 4. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung sehubungan dengan peningkatan afterload vasokontriksi.
Tujuan : Klien bebas dari penurunan curah jantung.
Kriteria hasil     :    -    pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan beban yang dapat diterima.
                               -    pasien memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal.

Intervensi :
1.      Pantau tekanan darah untuk evaluasi awal
Rasional      :    perbandingan tekanan memberikan gambaran tentang keterlibatan atau bidang masalah vaskular.
2.      Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
Rasional      :    denyut karoitis, jugularis, radialis dan femoralis dap terpalpasi sedangkan denyut tungkai mungkin menurun.
3.      Akultasi tonus jantung dan bunyi nafas
Rasional      :    S4 terdengar pada pasien hipertensi berat karena ada hipertropi atrium (peningkatan volume atau tekanan atrium) perkembangan S3 menunjukkan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi.
4.      Catat edema umum atau tertentu
Rasional      :    mengindikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskular.
5.      Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurangi aktivitas atau keributan dan batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.
Rasional      :    membantu menurunkan rangsang simpatis dan meningkatkan relaksasi.











Bab IV
Penutup

A.    Kesimpulan
Hipertensi dapat didefinisikan dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.( Bunner &sudart, 2002:897) menurut penyebabnya hipertensi terbagi 2 yaitu hipertensi primer /esensial dan hipertensi sekunder.hal ini lah yang mengakibatkan penurunnan curah jantung sehingga jantung di paksa utuk bekerja dengan kuat. Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala.
Secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

B.     Saran
Penulis menyadari dalam penulisan dan pembahasan makalah ini banyak ditemui kesalahan dan kekurangan baik dari penulisan dan pembahasan dikarenakan penulis masih dalam proses pembelajaran,penulis menerima dengan lapang dada  saran dan tanggapan dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini,dan penulis juga berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis nantinya








Daftar Pustaka

Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000
Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC,  2002
Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000
http://cozbenk-askephipertensi.blogspot.com/




Tidak ada komentar:

Posting Komentar